Seorang muslim haruslah turut berduka atas musibah yang bertubi-tubi melanda negeri tercinta ini; merapi, tsunami di mentawai, dan yang lainnya. Banyak suadara kita yang menjadi korban, kehilangan harta benda, dan seterusnya. Ketahuilah wahai saudaraku yang dirahmati Allah, musibah tersebut terjadi bukanlah karena faktor alam semata, akan tetapi faktor terbesar turunnya musibah dan bencana adalah karena keadilan sejati belum tegak. Ya, keadilan sejati yang kaum muslimin hari ini kurang memperhatikannya, atau mungkin meremehkannya. Mereka lupa bahwa tujuan terbesar diciptakannya makhluk, diutusnya para rosul dan diturunkannya kitab adalah agar mereka menegakkan keadilan sejati!
Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hadid : 25)
Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala menegaskan bahwa tujuan diutusnya Rosul dan diturunkannya Kitab adalah agar manusia menegakkan keadilan. Apa yang dimaksud dengan keadilan tersebut?
Betapapun rendahnya ilmu agama seorang mu’min, ia sangat mengetahui dengan pasti bahwa keadilan terbesar dan teragung adalah tauhid. Ya, tidak syak (ragu) lagi bahwa tauhid adalah keadilan sejati. Bahkan ia adalah puncak dari keadilan. Sedangkan lawannya yaitu, syirik adalah kedzoliman yang sangat besar (lihat surat Luqman : 31)
Betapa tidak, Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dengan penciptaan yang sempurna, yang seandainya seluruh orang cerdas di muka bumi berkumpul untuk mencari cela/kekurangan terhadap ciptaan-Nya, niscaya mereka tidak akan mampu dan tidak akan bisa, Allah Ta’ala juga telah menundukkan langit, bumi, daratan, lautan, hewan, dan yang lainnya; semuanya itu diperuntukkan agar manusia dapat merealisasikan ‘ubudiyah yang sempurna kepada Allah. Setiap saat Allah juga melimpahkan nikmat-Nya kepada manusia tanpa perhitungan, yang seandainya sesaat saja Allah mencabut kenikmaatan tersebut niscaya akan binasa.
Setelah kita mengetahui hal itu pantaskah kalau kita berpaling dari-Nya? atau mencari pujian dari selain-Nya? atau mengharap sanjungan dan imbalan dari selain-Nya? Allah Ta’ala telah menunjukkan kecintaan-Nya kepada kita, lalu kita mencintai selain-Nya? Apakah ini suatu keadilan?!! Tidak! Ini merupakan bentuk kedzoliman yang besar wahai kaum muslimin. Betapa banyak kedzoliman selama ini kita telah melakukan kepada Dzat yang mampu menurunkan adzab yang segera. Kalau lah bukan karena kemurahan Allah, niscaya kita semua telah binasa.
Yang Patut Disayangkan
Kejahilan terhadap asas dan dasar agama (tauhid) ini menjadikan kaum muslimin salah bersikap dan bertindak. Di antara bukti yang menunjukkan bahwa kebanyakan kaum muslimin hari ini telah berpaling dari dasar agama adalah ketika mereka dihadapakan pada pelaku maksiat. Betapa marah dan geramnya ketika hak manusia dilecehkan, akan tetapi ketika hak Allah diremehkan, mereka tidak menunjukkan sikap yang signifikan, mereka pandang sebelah mata, atau mereka anggap hal itu biasa saja, seperti angin lalu. Wal’iyadzubillah. Semoga Allah mengampuni dosa kita.
Bila demikian keadaanya, maka mustahil Allah Ta’ala memberikan kejayaan kepada kaum muslimin di atas musuh-musuhnya hingga mereka mau kembali mempelajari dan mengamalkan dasar agama ini, yaitu mentauhidkan-Nya. Sebuah keadilan sejati yang barang siapa menegakkannya akan memperoleh kemenangan, keamanan dan hidaya (kebahagian) di dunia dan di akhirat (lihat surat al-An’am ayat 82 dan tafsirnya syaikh as-Sa’di)
Awal Langkah Seorang Muslim
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluk agar mereka mentauhidkan-Nya dan menunjukkan seluruh bentuk ibadah kepada-Nya semata. Begitu juga Allah mengutus para Rosul, menurunkan kitab, menciptakan langit dan bumi, semua itu agar kita mengenal-Nya, menjadikan seluruh ketaatan hanya untuk-Nya dan berdakwah kepada agama-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Ad-Dzariyat : 56)
Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya: “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Ath-Tholaq : 12)
Allah Ta’ala juga berfirman: “Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci tempat manusia berkumpul (demikian pula) bulan Haram, had-yu dan qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu mengetahui, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Maidah : 97)
Tiga ayat di atas secara eksplisit menerangkan bahwa tujuan diciptakan makhluk oleh Allah, agar mereka beribadah hanya kepada-Nya dan mengenal-Nya melalui nama-nama-Nya yang Husna (Maha indah) dan sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi.
Setelah itu, harus kita pahami bahwa tidak ada kebahagiaan yang hakiki, kecuali dengan menjadikan Allah satu-satunya dzat yang kita ibadahi, dzat yang lebih kita cintai dari segala sesuatu selain-Nya. Ketika ada selain Allah yang diibadahi dan dicintai (cinta ibadah), maka tunggulah kehancuran langit dan bumi ini. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (Al-Anbiya : 22)
Kebutuhan Primer
Rasanya semua kita sepakat untuk bisa bertahan hidup manusia membutuhkan makan dan minum, tidak bisa tidak. Keduanya merupakan kebutuhan primer bagi jasad. Demikian pula hati, ia memiliki kebutuhan primer yang seandainya tidak terpenuhi, akibatnya berupa kesengsaraan di dunia dan adzab yang kekal di akherat. Kebutuhan primer bagi hati harus didahulukan di atas segala-galanya. Melalaikannya merupakan penyebab kehancuran bumi ini. Oleh karena itu, dakwah semua Rosul yang Allah utus adalah untuk memenuhi kebutuhan primer ini. Kebutuhan primer bagi hati itu adalah tauhid uluhiyah, Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (An-Nahl : 36)
Siapa pun kita dan bagaimana pun keadaan kita, mempelajari dan mengamalkan tauhid uluhiyah (menjadikan seluruh bentuk macam ibadah hanya untuk Allah) adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Inilah keadilan sejati yang dikehendaki oleh Allah. Semoga kita semua diberi taufik oleh Allah untuk bisa merealisasikannya.
[Husni Ridha]
.
Lanjut Baca Yuk.!!
ISTIHZA’ (Mengolok-olok) Jangan Anggap Biasa
Di dalam Syariat Islam, mengolok-olok orang lain – lebih dikenal dengan istilah ISTIHZA’ – yaitu melecehkan dan menghina dalam bentuk olok-olokan atau sendau gurau.
Hukum Istihza’ kepada orang yang Iltizam dengan agama
Mencela orang – orang yang iltizam (berpegang teguh) terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya, jika dikarenakan ke-iltizam-an mereka, maka hukumnya adalah haram dan sangat berbahaya bagi si pelaku, sebab dikhawatirkan kebencian tersebut adalah kebencian yang disebabkan karena mereka istiqomah di atas agama Allah.
Akibatnya, celaan yang mereka lontarkan sebenarnya adalah celaan terhadap agama. Allah menghukum orang yang mencela agama dengan kekufuran, sebagaimana firman-Nya yang artinya : “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersendau gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman”. (QS. At Taubah: 65-66)
Ayat ini menceritakan tentang orang-orang munafiq yang mengatakan : “Kami belum pernah melihat para pembaca (Al Quran) yang lebih buncit perutnya, lebih berdusta lisannya, dan pengecut saat berhadapan dengan musuhnya”. Maksud mereka adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para Shahabatnya. (Tafsir Ibnu Katsir)
Maka hendaklah kita menjauhkan diri dari mencela ahlul Haq karena keadaan mereka yang menjalankan perintah agama. Allah berfirman yang artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman berlalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. (QS. Al Muthaffifin: 29-36)
Jenis-jenis Istihza’ mencakup istihza’ terhadap Allah, terhadap rasul-Nya dan terhadap ulama’ serta orang – orang yang beriman.
Fenomena sederhana
Banyak fenomena yang sering kita saksikan di tengah masyarakat. Salah satu contoh sederhana adalah mengatakan “kebanjiran” kepada lelaki muslim yang memakai pakaian di atas mata kaki. Dan mengatakan kepada lelaki muslim yang berjenggot dengan sebutan “kambing”. Atau menyebut wanita yang berusaha menutup aurat dengan sebutan kuno, tidak pandai mengikuti mode, dan lain-lain.
Apa gerangan penyebabnya?
Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang terjatuh dalam isihza’, di antaranya adalah:
- memperturutkan hawa nafsu;
- minimnya pengetahuan tentang Islam;
- kosongnya hati dari rasa cinta kepada Allah;
- teman yang fasik, dan
- pengaruh media masa yang menjelek-jelekkan Islam.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita di atas jalan-Nya dan menghindarkan kita dari segala bentuk istihza‘.
[Hamzan]
Lanjut Baca Yuk.!!
Hukum Istihza’ kepada orang yang Iltizam dengan agama
Mencela orang – orang yang iltizam (berpegang teguh) terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya, jika dikarenakan ke-iltizam-an mereka, maka hukumnya adalah haram dan sangat berbahaya bagi si pelaku, sebab dikhawatirkan kebencian tersebut adalah kebencian yang disebabkan karena mereka istiqomah di atas agama Allah.
Akibatnya, celaan yang mereka lontarkan sebenarnya adalah celaan terhadap agama. Allah menghukum orang yang mencela agama dengan kekufuran, sebagaimana firman-Nya yang artinya : “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersendau gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman”. (QS. At Taubah: 65-66)
Ayat ini menceritakan tentang orang-orang munafiq yang mengatakan : “Kami belum pernah melihat para pembaca (Al Quran) yang lebih buncit perutnya, lebih berdusta lisannya, dan pengecut saat berhadapan dengan musuhnya”. Maksud mereka adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para Shahabatnya. (Tafsir Ibnu Katsir)
Maka hendaklah kita menjauhkan diri dari mencela ahlul Haq karena keadaan mereka yang menjalankan perintah agama. Allah berfirman yang artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman berlalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. (QS. Al Muthaffifin: 29-36)
Jenis-jenis Istihza’ mencakup istihza’ terhadap Allah, terhadap rasul-Nya dan terhadap ulama’ serta orang – orang yang beriman.
Fenomena sederhana
Banyak fenomena yang sering kita saksikan di tengah masyarakat. Salah satu contoh sederhana adalah mengatakan “kebanjiran” kepada lelaki muslim yang memakai pakaian di atas mata kaki. Dan mengatakan kepada lelaki muslim yang berjenggot dengan sebutan “kambing”. Atau menyebut wanita yang berusaha menutup aurat dengan sebutan kuno, tidak pandai mengikuti mode, dan lain-lain.
Apa gerangan penyebabnya?
Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang terjatuh dalam isihza’, di antaranya adalah:
- memperturutkan hawa nafsu;
- minimnya pengetahuan tentang Islam;
- kosongnya hati dari rasa cinta kepada Allah;
- teman yang fasik, dan
- pengaruh media masa yang menjelek-jelekkan Islam.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita di atas jalan-Nya dan menghindarkan kita dari segala bentuk istihza‘.
[Hamzan]
Lanjut Baca Yuk.!!
Hati-Hati dengan Harta
Harta merupakan salah satu nikmat Allah Ta’ala yang dikaruniakan kepada umat manusia. Keindahannya demikian mempesona. Pernak-perniknya pun teramat menggoda. Ini mengingatkan kita akan firman Allah Ta’ala yang artinya: “ Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada segala apa yang diingini (syahwat), yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (al-Jannah).” (Ali ‘Imran: 14)
Ketertarikan Hati Manusia Terhadap Harta
Manusia merupakan makhluk Allah Ta’ala yang berjati diri amat dzalim (zhalum) dan amat bodoh (jahul). Demikianlah Allah Ta’ala, Rabb semesta alam, mensifati mereka, sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72)
Jika demikian kondisinya, maka tak mengherankan bila (kebanyakan) manusia teramat berambisi mengumpulkan dan menumpuknya. Sungguh benar, apa yang disabdakan dan diperingatkan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kalaulah anak Adam (manusia) telah memiliki dua lembah dari harta, niscaya masih berambisi untuk mendapatkan yang ketiga. Padahal (ketika ia berada di liang kubur) tidak lain yang memenuhi perutnya adalah tanah, dan Allah Maha Mengampuni orang-orang yang bertaubat.” (HR. Al-Bukhari)
Dapat Melalaikan dari Dzikrullah
Para pembaca yang mulia, ketika hati anak manusia amat cinta kepada harta bahkan berambisi untuk mengumpulkan dan menumpuknya, maka sudah barang tentu harta tersebut dapat melalaikannya dari ketaatan kepada Allah Ta’ala (dzikrullah). Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui keadaan para hamba-Nya telah memberitakan hal ini, sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya: “Telah melalaikan kalian perbuatan berbanyak-banyakan. Hingga kalian masuk ke liang kubur.” (At-Takatsur: 1-2)
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata: “Telah melalaikan kalian (dari ketaatan) perbuatan berbanyak-banyakan dalam hal harta dan anak.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Dapat Menjadikan Seseorang Sombong
Kisah berikutnya adalah tentang para pembesar Bani Israil yang memprotes Nabi mereka atas diangkatnya Thalut sebagai raja mereka. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja kalian.’ Mereka menjawab: ‘Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedangkan dia pun bukan orang yang kaya?’ (Nabi mereka) berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi raja kalian dan menganugerahinya ilmu yang luas serta tubuh yang perkasa.’ Allah memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 247)
Para pembaca, demikianlah beberapa fenomena mengerikan tentang harta dan perannya yang amat besar dalam mengantarkan anak manusia kepada kesombongan. Akibatnya, kebenaran dengan ‘enteng’ ditolaknya dan orang-orang mulia pun direndahkannya.
Hanya Titipan
Maka dari itu, tidaklah pantas bagi seorang muslim yang diberi karunia harta oleh Allah Ta’ala lalai dari dzikrullah dan berbangga diri (sombong) dengan hartanya. Bukankah harta itu merupakan titipan Allah Ta’ala yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat? Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu (hari kiamat) tentang kenikmatan (yang kamu bermegah-megahan dengannya).” (At-Takatsur:
[Wahyu Budiman]
Lanjut Baca Yuk.!!
Ketertarikan Hati Manusia Terhadap Harta
Manusia merupakan makhluk Allah Ta’ala yang berjati diri amat dzalim (zhalum) dan amat bodoh (jahul). Demikianlah Allah Ta’ala, Rabb semesta alam, mensifati mereka, sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72)
Jika demikian kondisinya, maka tak mengherankan bila (kebanyakan) manusia teramat berambisi mengumpulkan dan menumpuknya. Sungguh benar, apa yang disabdakan dan diperingatkan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kalaulah anak Adam (manusia) telah memiliki dua lembah dari harta, niscaya masih berambisi untuk mendapatkan yang ketiga. Padahal (ketika ia berada di liang kubur) tidak lain yang memenuhi perutnya adalah tanah, dan Allah Maha Mengampuni orang-orang yang bertaubat.” (HR. Al-Bukhari)
Dapat Melalaikan dari Dzikrullah
Para pembaca yang mulia, ketika hati anak manusia amat cinta kepada harta bahkan berambisi untuk mengumpulkan dan menumpuknya, maka sudah barang tentu harta tersebut dapat melalaikannya dari ketaatan kepada Allah Ta’ala (dzikrullah). Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui keadaan para hamba-Nya telah memberitakan hal ini, sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya: “Telah melalaikan kalian perbuatan berbanyak-banyakan. Hingga kalian masuk ke liang kubur.” (At-Takatsur: 1-2)
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata: “Telah melalaikan kalian (dari ketaatan) perbuatan berbanyak-banyakan dalam hal harta dan anak.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Dapat Menjadikan Seseorang Sombong
Kisah berikutnya adalah tentang para pembesar Bani Israil yang memprotes Nabi mereka atas diangkatnya Thalut sebagai raja mereka. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja kalian.’ Mereka menjawab: ‘Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedangkan dia pun bukan orang yang kaya?’ (Nabi mereka) berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi raja kalian dan menganugerahinya ilmu yang luas serta tubuh yang perkasa.’ Allah memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 247)
Para pembaca, demikianlah beberapa fenomena mengerikan tentang harta dan perannya yang amat besar dalam mengantarkan anak manusia kepada kesombongan. Akibatnya, kebenaran dengan ‘enteng’ ditolaknya dan orang-orang mulia pun direndahkannya.
Hanya Titipan
Maka dari itu, tidaklah pantas bagi seorang muslim yang diberi karunia harta oleh Allah Ta’ala lalai dari dzikrullah dan berbangga diri (sombong) dengan hartanya. Bukankah harta itu merupakan titipan Allah Ta’ala yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat? Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Kemudian kalian pasti akan ditanya pada hari itu (hari kiamat) tentang kenikmatan (yang kamu bermegah-megahan dengannya).” (At-Takatsur:
[Wahyu Budiman]
Lanjut Baca Yuk.!!
Sepuluh Shahabat Penghuni Surga
Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa para Shahabat adalah orang – orang yang adil dan memilliki keutamaan yang bertingkat – tingkat. Secara umum, Shahabat yang paling utama adalah As Sabiqunal Awwalun fil Islam (orang – orang yang pertama kali masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, kemudian orang – orang yang ikut perang Badar, kemudian orang – orang yang ikut perang Uhud, kemudian orang -orang yang ikut perang Ahzab, kemudian orang – orang yang menyaksikan Bai’atur Ridwan, kemudian orang – orang yang berhijrah ke Madinah sebelum pembukaan kota Mekah dan mereka semua akan mendapatkan balasan pahala dari Allah ta’ala.
Adapun secara khusus, Shahabat yang paling utama adalah Al Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khatthab, Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib) kemudian ‘Abdur Rahman bin ‘Auf, Zubair bin, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan Sa’id bin Zaid -semoga Allah meridhai mereka semua-.
Banyak hadist yang menunjukkan tentang keutamaan mereka, baik secara umum maupun khusus. Diantaranya adalah hadist yang diriwayatkan dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Abu Bakar di Surga, Umar di Surga, Ali di Surga, Ustman di Surga, Thalhah di Surga, Zubair bin Awwam di Surga, Abdurrahman bin Auf di Surga, Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail di Surga, Abu ‘Ubaidah bin Al Jarrah di Surga”. [HR. Tirmidzi, Shahih]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamin surga bagi mereka dan mengumpulkan mereka dalam hadist ini, oleh sebab itu mereka diberi gelar “Al ‘Asyru Al Mubassyarun Bil Jannah” (sepuluh Sahabat yang di beri kabar gembira dengan surga). Adapun orang – orang yang dijamin oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara perorangan bahwa mereka termasuk penghuni surga, maka sesungguhnya Ahlus Sunnah juga meyakini hal itu sebagai bentuk pembenaran terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas apa yang beliau kabarkan bagi mereka berupa surga.
Sesungguhnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menjamin surga bagi mereka kecuali setelah beliau mengetahui hal itu. Dan sesungguhnya Allah yang telah memberitahukan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa salam atas kehendak-Nya dari perkara yang ghaib. Sebagaimana firman Alllah Ta’ala yang artinya: “Dia mengetahu yang ghaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapapun tentang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga – penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya”. (QS. Al Jin: 26-27)
Imam Ath Thahawi mengatakan: “Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak menjamin surga maupun nereka bagi seorang pun dari ahli kiblat kecuali yang telah dijamin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah; sepuluh Shahabat yang diberi kabar gembira dengan surga”.
[Dedi]
-Maraji’ utama: – Kitab Durusul Mufidah, Yahya Bin Al Qasim Ad Dailami Lanjut Baca Yuk.!!
Adapun secara khusus, Shahabat yang paling utama adalah Al Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khatthab, Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib) kemudian ‘Abdur Rahman bin ‘Auf, Zubair bin, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan Sa’id bin Zaid -semoga Allah meridhai mereka semua-.
Banyak hadist yang menunjukkan tentang keutamaan mereka, baik secara umum maupun khusus. Diantaranya adalah hadist yang diriwayatkan dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Abu Bakar di Surga, Umar di Surga, Ali di Surga, Ustman di Surga, Thalhah di Surga, Zubair bin Awwam di Surga, Abdurrahman bin Auf di Surga, Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail di Surga, Abu ‘Ubaidah bin Al Jarrah di Surga”. [HR. Tirmidzi, Shahih]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamin surga bagi mereka dan mengumpulkan mereka dalam hadist ini, oleh sebab itu mereka diberi gelar “Al ‘Asyru Al Mubassyarun Bil Jannah” (sepuluh Sahabat yang di beri kabar gembira dengan surga). Adapun orang – orang yang dijamin oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara perorangan bahwa mereka termasuk penghuni surga, maka sesungguhnya Ahlus Sunnah juga meyakini hal itu sebagai bentuk pembenaran terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas apa yang beliau kabarkan bagi mereka berupa surga.
Sesungguhnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menjamin surga bagi mereka kecuali setelah beliau mengetahui hal itu. Dan sesungguhnya Allah yang telah memberitahukan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa salam atas kehendak-Nya dari perkara yang ghaib. Sebagaimana firman Alllah Ta’ala yang artinya: “Dia mengetahu yang ghaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapapun tentang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga – penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya”. (QS. Al Jin: 26-27)
Imam Ath Thahawi mengatakan: “Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak menjamin surga maupun nereka bagi seorang pun dari ahli kiblat kecuali yang telah dijamin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah; sepuluh Shahabat yang diberi kabar gembira dengan surga”.
[Dedi]
-Maraji’ utama: – Kitab Durusul Mufidah, Yahya Bin Al Qasim Ad Dailami Lanjut Baca Yuk.!!
Kunci Surga
“Barang siapa yang akhir perkataannya(sebelum meninggal) adalah (syahadat) Laa ilaaha illallaah’ maka ia akan masuk syurga” Demikian kabar gembira yang Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sampaikan kepada umatnya. Hingga muncul slogan yang mendarah daging di hati masyarakat kita kaum muslimin: “Miftahul jannah laa ilaaha illallaah” Bahwa kunci seorang muslim untuk masuk surga adalah ucapan syahadat laa ilaaha illallaah.
Lantas bagaimanakah kita mendapatkan keutamaan dan kemuliaan dengan kalimat syahadat? Apakah dengan membentuk kelompok-kelompok dzikir laa ilaaha illallaah? Atau dengan memperbanyak dzikir ratusan, bahkan ribuan kali setiap hari? Perlukah kita mempelajari maknanya? Adakah konsekuensi yang harus kita tunaikan dari syahadat ini?
Marilah kita simak perkataan para pendahulu umat ini yang shalih.
Slogan tadi juga masyhur dikalangan para pendahulu umat ini yang shalih. Seorang tabi’in Wahb bin Munabbih rahimahullah pernah ditanya oleh muridnya: “Bukankah kalimat syahadat laa ilaaha illalaah adalah kunci surga?” Beliau jawab: “Engkau benar. Akan tetapi, bukankah setiap kunci itu pasti punya gigi-gigi? Maka jika engkau membawa kunci yang bergigi, niscaya pintunya akan terbuka untukmu. Namun, jika engkau membawa kunci yang ompong tanpa gigi, maka pintunya tak akan terbuka.”
Inilah keyakinan yang dipegang teguh oleh para pendahulu umat ini yang shalih yang semestinya kita teladani. Maksud Beliau, seseorang yang mengucapkan kalimat syahadat ia akan masuk surga, dengan catatan ia memenuhi syarat-syaratnya, melakukan konsekuensinya, dan menjauhi hal-hal yang menghalanginya untuk masuk surga; bukan sekedar mengucapkan syahadat sebanyak-banyaknya tanpa tahu maknanya atau tanpa mengamalkan konsekuensinya, atau bahkan melakukan perbuatan yang membatalkan syahadatnya tanpa ia sadari wal’iyadzu billaah, ini sangat berbahaya karena batal syahadat berarti batallah islamnya.
Delapan syarat laa ilaaha illallaah
Dari penelitian para ulama terhadap dalil-dalil, baik al-Quran maupun hadits, disimpulkan bahwa syarat kalimat syahadat ada delapan.
Syarat pertama: ilmu.
Yaitu mengetahui makna kalimat laa ilaaha illallaah secara benar. Allah berfirman yang artinya: “Kecuali orang-orang yang bersaksi dengan Al-haq sedangkan mereka mengetahui.” (QS. Az-Zukhruf: 86)
Syarat kedua: yakin.
Yang menghapuskan keraguan. Allah berfirman yang artinya: “Hanyalah orang mukmin itu adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian dia tidak ragu.” (QS. Al-Hujurat: 15)
Syarat ketiga: ikhlas.
Allah berfirman yang artinya: “Mereka hanyalah diperintahkan untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan peribadahan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Syarat keempat: jujur.
Tidak berdusta. Allah berfirman yang artinya: “Apakah manusia mengira akan dibiarkan begitu saja setelah mengatakan ‘kami orang yang beriman’ dan tidak diuji (kebenaran perkataan mereka). Sungguh Kami (Allah) telah menguji orang-orang sebelum mereka, dan sungguh Allah mengetahui orang yang jujur dan mengetahui orang yang berdusta.”(QS. Al-Ankabut: 2-3)
Syarat kelima: cinta.
Yaitu mencintai kalimat syahadat, kandungan makna, dan konsekuensinya, serta mencintai orang yang mengucapkannya. Allah berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kalian yang murtad niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah.” (Al-Maidah: 54)
Syarat keenam: tunduk patuh.
Mengamalkan konsekuensi kalimat syahadat. Allah berfirman yang artinya: “Sungguh demi Robbmu, tidaklah mereka beriman sampai mereka menjadikanmu (Muhammad) sebagai hakim dalam perselisihan yang terjadi diantara mereka, kemudian mereka tidak merasa berat hati menerima ketetapan hukummu dan mereka tunduk patuh sepenuhnya.” (An-Nisa: 65)
Syarat ketujuh: menerima.
Tidak menolak seperti penolakan orang musyrik Quraisy terhadap seruan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikrarkan laa ilaaha illallaah. Allah berfirman yang artinya: “Dahulu jika dikatakan kepada mereka: (ucapkanlah) ‘Laa ilaaha illallaah’ mereka menyombongkan diri, bahkan mengatakan: ‘Akankah kita tinggalkan berhala sesembahan kita hanya karena ucapan penyair gila ini?’” (QS. Ash-Shaffat: 35-36)
Syarat kedelapan: kufur terhadap thaghut.
Yaitu mengingkari sesembahan selain Allah dan segala bentuk ibadah kepada selain Allah. Allah berfirman yang artinya: “Maka barangsiapa yang kufur terhadap thaghut dan beriman kepada Allah berarti dia berpegang teguh dengan ikatan tali(agama) yang kokoh.” (QS. Al-Baqarah: 256)
TENTANG MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAAH
Makna yang benar
Tidak ada ilah (sembahan) yang berhak disembah kecuali Allah.
Artinya hanya Allah lah yang diibadahi secara hak (benar), adapun selain Allah, apabila diibadahi, maka ia diibadahi secara batil. Allah berfirman yang artinya: “Yang demikiaan itu karena hanya Allah lah Al-haq (Yang Maha Benar) dan sembahan selain Allah yang diibadahi adalah batil.” (QS. Luqman: 30)
Antara Ar-rabb dan Al-ilaah
Ar-rabb maknanya Yang Maha Esa dalam perbuatan-Nya. Maksudnya, hanya Allah lah satu-satunya yang mampu menciptakan, mengatur alam semesta, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, dan sebagainya. Ini disebut dengan sifat rububiyah Allah.
Sedangkan Al-ilaah maknanya Maha Esa dalam hak untuk diibadahi. Maksudnya hanya Allah lah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi, tidak memberikan ibadah apapun bentuknya dalam rangka mendekatkan diri kepada selain Allah, siapapun dia, baik wali, kiyai, syaikh yang masih hidup, maupun yang sudah mati; baik ibadah lahir, seperti shalat, zakat, haji, thawaf, i’tikaf, dzikir, do’a, ataupun ibadah batin, seperti minta pertolongan, istighatsah, tawakal, takut, harap dan sebagainya.
Ini disebut dengan sifat uluhiyah Allah.
Cukupkah mengimani rububiyah saja?
Keimanan seorang mukmin kepada rububiyah Allah mengantarkannya untuk mengimani uluhiyah Allah.
Gambarannya:
-Seseorang yang mengimani bahwa Allah Maha Memberi rizki, maka hal itu mendorongnya untuk meminta rizki dan kekayaan hanya dari Allah, tidak memintanya dari siapapun selain Allah.
-Seseorang yang meyakini bahwa Allah lah satu-satunya Pemilik Syafa’at secara mutlak, adapun makhluk seperti nabi,orang-orang shalih yang kelak bisa memberi syafa’at adalah semata-mata anugerah dari Allah, maka keyakinan ini mengantarkannya untuk meminta syafa’at hanya dari Allah Pemilik Syafa’at yang hakiki, tidak meminta kepada siapapun selain-Nya. Dia akan berdo’a: ‘Ya Allah izinkan Nabi-Mu memberi syafa’at-Mu kepadaku kelak di hari kiamat’ atau ‘Ya Allah jangan halangi syafa’at Nabi-Mu bagiku kelak di akhirat’ dan do’a semisalnya.
Adapun orang yang mengimani rububiyah Allah saja, tanpa mengimani uluhiyah-Nya; dia mengimani Allah Maha Pencipta, Maha Pengatur, Maha Memberi rizki, akan tetapi dia berbuat syirik, beribadah kepada selain Allah, meminta rizki dari wali-wali, memohon syafa’at dari selain Allah, maka orang tersebut belum dikatakan muslim.
Apa buktinya?
Perhatikanlah keadan orang musyrik Quraisy dahulu. Mereka mengimani rububiyah Allah. Allah berfirman tentang mereka yang artinya: “Katakanlah kepada mereka (wahai Muhammad): ‘Siapakah yang memberi kalian rizki dari langit dan bumi, siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarakan yang hidup dari yang mati, dan siapakah yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ niscaya mereka akan mengatakan: ‘Allah.’ Maka katakanlah kepada mereka: ‘Mengapa kalian tidak bertakwa?” (QS. Yunus: 31)
Akan tetapi, mereka tetap berbuat syirik, beribadah kepada berhala, Allah berfirman yang artinya: “Tidaklah kami beribadah kepada mereka (berhala), kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah.” (QS. Az-Zumar: 3)
Mereka juga meminta syafa’at kepada wali yang telah meninggal di antara mereka, Allah berfirman yang artinya: “Mereka (orang musyrik Quraisy) mengatakan: ‘Mereka (berhala) itu adalah pemberi syafa’at kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18)
Dengan keadaan mereka yang demikian, Allah menghukumi mereka sebagai orang kafir, bukan muslim.
Semoga Allah memberi kita hidayah dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang beriman dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah. Aamiin.
(Ahmad) Lanjut Baca Yuk.!!
Lantas bagaimanakah kita mendapatkan keutamaan dan kemuliaan dengan kalimat syahadat? Apakah dengan membentuk kelompok-kelompok dzikir laa ilaaha illallaah? Atau dengan memperbanyak dzikir ratusan, bahkan ribuan kali setiap hari? Perlukah kita mempelajari maknanya? Adakah konsekuensi yang harus kita tunaikan dari syahadat ini?
Marilah kita simak perkataan para pendahulu umat ini yang shalih.
Slogan tadi juga masyhur dikalangan para pendahulu umat ini yang shalih. Seorang tabi’in Wahb bin Munabbih rahimahullah pernah ditanya oleh muridnya: “Bukankah kalimat syahadat laa ilaaha illalaah adalah kunci surga?” Beliau jawab: “Engkau benar. Akan tetapi, bukankah setiap kunci itu pasti punya gigi-gigi? Maka jika engkau membawa kunci yang bergigi, niscaya pintunya akan terbuka untukmu. Namun, jika engkau membawa kunci yang ompong tanpa gigi, maka pintunya tak akan terbuka.”
Inilah keyakinan yang dipegang teguh oleh para pendahulu umat ini yang shalih yang semestinya kita teladani. Maksud Beliau, seseorang yang mengucapkan kalimat syahadat ia akan masuk surga, dengan catatan ia memenuhi syarat-syaratnya, melakukan konsekuensinya, dan menjauhi hal-hal yang menghalanginya untuk masuk surga; bukan sekedar mengucapkan syahadat sebanyak-banyaknya tanpa tahu maknanya atau tanpa mengamalkan konsekuensinya, atau bahkan melakukan perbuatan yang membatalkan syahadatnya tanpa ia sadari wal’iyadzu billaah, ini sangat berbahaya karena batal syahadat berarti batallah islamnya.
Delapan syarat laa ilaaha illallaah
Dari penelitian para ulama terhadap dalil-dalil, baik al-Quran maupun hadits, disimpulkan bahwa syarat kalimat syahadat ada delapan.
Syarat pertama: ilmu.
Yaitu mengetahui makna kalimat laa ilaaha illallaah secara benar. Allah berfirman yang artinya: “Kecuali orang-orang yang bersaksi dengan Al-haq sedangkan mereka mengetahui.” (QS. Az-Zukhruf: 86)
Syarat kedua: yakin.
Yang menghapuskan keraguan. Allah berfirman yang artinya: “Hanyalah orang mukmin itu adalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian dia tidak ragu.” (QS. Al-Hujurat: 15)
Syarat ketiga: ikhlas.
Allah berfirman yang artinya: “Mereka hanyalah diperintahkan untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan peribadahan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Syarat keempat: jujur.
Tidak berdusta. Allah berfirman yang artinya: “Apakah manusia mengira akan dibiarkan begitu saja setelah mengatakan ‘kami orang yang beriman’ dan tidak diuji (kebenaran perkataan mereka). Sungguh Kami (Allah) telah menguji orang-orang sebelum mereka, dan sungguh Allah mengetahui orang yang jujur dan mengetahui orang yang berdusta.”(QS. Al-Ankabut: 2-3)
Syarat kelima: cinta.
Yaitu mencintai kalimat syahadat, kandungan makna, dan konsekuensinya, serta mencintai orang yang mengucapkannya. Allah berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kalian yang murtad niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah.” (Al-Maidah: 54)
Syarat keenam: tunduk patuh.
Mengamalkan konsekuensi kalimat syahadat. Allah berfirman yang artinya: “Sungguh demi Robbmu, tidaklah mereka beriman sampai mereka menjadikanmu (Muhammad) sebagai hakim dalam perselisihan yang terjadi diantara mereka, kemudian mereka tidak merasa berat hati menerima ketetapan hukummu dan mereka tunduk patuh sepenuhnya.” (An-Nisa: 65)
Syarat ketujuh: menerima.
Tidak menolak seperti penolakan orang musyrik Quraisy terhadap seruan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikrarkan laa ilaaha illallaah. Allah berfirman yang artinya: “Dahulu jika dikatakan kepada mereka: (ucapkanlah) ‘Laa ilaaha illallaah’ mereka menyombongkan diri, bahkan mengatakan: ‘Akankah kita tinggalkan berhala sesembahan kita hanya karena ucapan penyair gila ini?’” (QS. Ash-Shaffat: 35-36)
Syarat kedelapan: kufur terhadap thaghut.
Yaitu mengingkari sesembahan selain Allah dan segala bentuk ibadah kepada selain Allah. Allah berfirman yang artinya: “Maka barangsiapa yang kufur terhadap thaghut dan beriman kepada Allah berarti dia berpegang teguh dengan ikatan tali(agama) yang kokoh.” (QS. Al-Baqarah: 256)
TENTANG MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAAH
Makna yang benar
Tidak ada ilah (sembahan) yang berhak disembah kecuali Allah.
Artinya hanya Allah lah yang diibadahi secara hak (benar), adapun selain Allah, apabila diibadahi, maka ia diibadahi secara batil. Allah berfirman yang artinya: “Yang demikiaan itu karena hanya Allah lah Al-haq (Yang Maha Benar) dan sembahan selain Allah yang diibadahi adalah batil.” (QS. Luqman: 30)
Antara Ar-rabb dan Al-ilaah
Ar-rabb maknanya Yang Maha Esa dalam perbuatan-Nya. Maksudnya, hanya Allah lah satu-satunya yang mampu menciptakan, mengatur alam semesta, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, dan sebagainya. Ini disebut dengan sifat rububiyah Allah.
Sedangkan Al-ilaah maknanya Maha Esa dalam hak untuk diibadahi. Maksudnya hanya Allah lah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi, tidak memberikan ibadah apapun bentuknya dalam rangka mendekatkan diri kepada selain Allah, siapapun dia, baik wali, kiyai, syaikh yang masih hidup, maupun yang sudah mati; baik ibadah lahir, seperti shalat, zakat, haji, thawaf, i’tikaf, dzikir, do’a, ataupun ibadah batin, seperti minta pertolongan, istighatsah, tawakal, takut, harap dan sebagainya.
Ini disebut dengan sifat uluhiyah Allah.
Cukupkah mengimani rububiyah saja?
Keimanan seorang mukmin kepada rububiyah Allah mengantarkannya untuk mengimani uluhiyah Allah.
Gambarannya:
-Seseorang yang mengimani bahwa Allah Maha Memberi rizki, maka hal itu mendorongnya untuk meminta rizki dan kekayaan hanya dari Allah, tidak memintanya dari siapapun selain Allah.
-Seseorang yang meyakini bahwa Allah lah satu-satunya Pemilik Syafa’at secara mutlak, adapun makhluk seperti nabi,orang-orang shalih yang kelak bisa memberi syafa’at adalah semata-mata anugerah dari Allah, maka keyakinan ini mengantarkannya untuk meminta syafa’at hanya dari Allah Pemilik Syafa’at yang hakiki, tidak meminta kepada siapapun selain-Nya. Dia akan berdo’a: ‘Ya Allah izinkan Nabi-Mu memberi syafa’at-Mu kepadaku kelak di hari kiamat’ atau ‘Ya Allah jangan halangi syafa’at Nabi-Mu bagiku kelak di akhirat’ dan do’a semisalnya.
Adapun orang yang mengimani rububiyah Allah saja, tanpa mengimani uluhiyah-Nya; dia mengimani Allah Maha Pencipta, Maha Pengatur, Maha Memberi rizki, akan tetapi dia berbuat syirik, beribadah kepada selain Allah, meminta rizki dari wali-wali, memohon syafa’at dari selain Allah, maka orang tersebut belum dikatakan muslim.
Apa buktinya?
Perhatikanlah keadan orang musyrik Quraisy dahulu. Mereka mengimani rububiyah Allah. Allah berfirman tentang mereka yang artinya: “Katakanlah kepada mereka (wahai Muhammad): ‘Siapakah yang memberi kalian rizki dari langit dan bumi, siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarakan yang hidup dari yang mati, dan siapakah yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ niscaya mereka akan mengatakan: ‘Allah.’ Maka katakanlah kepada mereka: ‘Mengapa kalian tidak bertakwa?” (QS. Yunus: 31)
Akan tetapi, mereka tetap berbuat syirik, beribadah kepada berhala, Allah berfirman yang artinya: “Tidaklah kami beribadah kepada mereka (berhala), kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah.” (QS. Az-Zumar: 3)
Mereka juga meminta syafa’at kepada wali yang telah meninggal di antara mereka, Allah berfirman yang artinya: “Mereka (orang musyrik Quraisy) mengatakan: ‘Mereka (berhala) itu adalah pemberi syafa’at kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18)
Dengan keadaan mereka yang demikian, Allah menghukumi mereka sebagai orang kafir, bukan muslim.
Semoga Allah memberi kita hidayah dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang beriman dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah. Aamiin.
(Ahmad) Lanjut Baca Yuk.!!
VALENTINE’S DAY Penyakit Latah Tak Kunjung Reda
Latah dan suka mengikut merupakan penyakit yang banyak menimpa umat ini, terlebih lagi jika yang menjadi kiblat mereka adalah negara-negara barat dan orang kafir. Penyakit ini akan semakin parah jika menimpa orang yang tidak memiliki filter dan pondasi yang kokoh dalam agama.
“Valentine’s Day” Hari Raya umat Nasrani ini, semakin hari semakin dibuat samar. Seakan menjadi Hari Raya milik bersama, di mana setiap orang boleh melaksanakannya. Wal hasil, tidak sedikit kaum muslimin (terutama kawula muda) yang terjerat dan ikut-ikutan latah dalam hal ini, terbuai dengan iming-iming “kasih sayang”. Dan celah ini tidak pernah disia-siakan oleh orang kafir untuk menjadikan kaum muslimin kehilangan sikap dan prinsip al-Wala’ wal-Bara’ (loyalitas dan kebencian) kepada orang kafir. Minimal, kita dibuat tidak merasa benci dengan gaya hidup mereka. Allah telah jauh – jauh hari mengingatkan kepada kita akan hal ini (dalam firman-nya yang artinya): “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” [QS. Al Baqarah: 120]
Valentine’s Day, No Way
Lembaga Fatwa Arab Saudi (al-Lajnah ad-Daimah) pernah menyatakan di dalam fatwanya bahwa merayakan Valentine’s Day adalah haram. Keharaman tersebut di sebabkan adanya unsur keridhaan serta tasyabbuh (penyerupaan) terhadap orang kafir. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” [HR. Abu Dawud] ]
Selain itu, Valentine’s Day merupakan Hari Raya bid’ah tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para Shahabatnya.
Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin juga berfatwa akan haramnya merayakan Valentine’s Day dikarenakan beberapa hal, di antaranya adalah;
Pertama: Ia merupakan hari Raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syri’at Islam.
Kedua: Ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendah seperti ini yang sangat bertentangan dengan ajaran Salafush Shalih (pendahulu kita)
Selain itu, merayakan hal seperti ini akan membuahkan dampak buruk yang sangat banyak, di antaranya adalah mempopulerkan ritual-ritual orang kafir, sehingga terhapuslah syi’ar – syi’ar Islam.
Bukan Basa Basi..
Sebagai seorang muslim, tidak layak bersikap basa basi dalam syariat Islam terkait dengan Hari Raya orang-orang kafir, baik dalam rangka mudahanah (toleransi), mencari keridhoan, atau pun sekedar ikut-ikutan; karena kita dan mereka memang beda adanya. Sedangkan Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Maka mereka menginginkan supaya kamu bermudahanah (bersikap lunak), lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (QS. Al Qalam: 9)
Akhirnya, hukum perayaan seperti ini telah terang bagai matahari disiang bolong. Masihkah kita terlena dengan slogan “Kasih Sayang” dan ikut-ikutan latah serta berkiblat kepada orang kafir??
[Agus]
Maraji’ utama :
- Majmu’ fatawa wa rasail ibni ‘utsaimin
– www.muslimah.or.id.
Lanjut Baca Yuk.!!
“Valentine’s Day” Hari Raya umat Nasrani ini, semakin hari semakin dibuat samar. Seakan menjadi Hari Raya milik bersama, di mana setiap orang boleh melaksanakannya. Wal hasil, tidak sedikit kaum muslimin (terutama kawula muda) yang terjerat dan ikut-ikutan latah dalam hal ini, terbuai dengan iming-iming “kasih sayang”. Dan celah ini tidak pernah disia-siakan oleh orang kafir untuk menjadikan kaum muslimin kehilangan sikap dan prinsip al-Wala’ wal-Bara’ (loyalitas dan kebencian) kepada orang kafir. Minimal, kita dibuat tidak merasa benci dengan gaya hidup mereka. Allah telah jauh – jauh hari mengingatkan kepada kita akan hal ini (dalam firman-nya yang artinya): “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” [QS. Al Baqarah: 120]
Valentine’s Day, No Way
Lembaga Fatwa Arab Saudi (al-Lajnah ad-Daimah) pernah menyatakan di dalam fatwanya bahwa merayakan Valentine’s Day adalah haram. Keharaman tersebut di sebabkan adanya unsur keridhaan serta tasyabbuh (penyerupaan) terhadap orang kafir. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” [HR. Abu Dawud] ]
Selain itu, Valentine’s Day merupakan Hari Raya bid’ah tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para Shahabatnya.
Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin juga berfatwa akan haramnya merayakan Valentine’s Day dikarenakan beberapa hal, di antaranya adalah;
Pertama: Ia merupakan hari Raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syri’at Islam.
Kedua: Ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendah seperti ini yang sangat bertentangan dengan ajaran Salafush Shalih (pendahulu kita)
Selain itu, merayakan hal seperti ini akan membuahkan dampak buruk yang sangat banyak, di antaranya adalah mempopulerkan ritual-ritual orang kafir, sehingga terhapuslah syi’ar – syi’ar Islam.
Bukan Basa Basi..
Sebagai seorang muslim, tidak layak bersikap basa basi dalam syariat Islam terkait dengan Hari Raya orang-orang kafir, baik dalam rangka mudahanah (toleransi), mencari keridhoan, atau pun sekedar ikut-ikutan; karena kita dan mereka memang beda adanya. Sedangkan Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Maka mereka menginginkan supaya kamu bermudahanah (bersikap lunak), lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (QS. Al Qalam: 9)
Akhirnya, hukum perayaan seperti ini telah terang bagai matahari disiang bolong. Masihkah kita terlena dengan slogan “Kasih Sayang” dan ikut-ikutan latah serta berkiblat kepada orang kafir??
[Agus]
Maraji’ utama :
- Majmu’ fatawa wa rasail ibni ‘utsaimin
– www.muslimah.or.id.
Lanjut Baca Yuk.!!
KEUTAMAAN TAUHID DALAM ISLAM
SESAR
Oleh Aboe Zaid Romadhoni
Muroja’ah oleh Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin
Saudaraku pembaca, sebagai seorang muslim, pasti tidak asing lagi mendengar kata Tauhid. Sebuah kata yang sangat penting dan urgen di dalam agama Islam. Tetapi, betapa banyak kaum muslimin yang meremehkan kata tersebut. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita akan sedikit mengulang dan membahas tentang kedudukan dan keutaman tauhid dalam agama Islam, dengan harapan kita semakin cinta akan agama ini dan semakin bersemangat dalam memahami, mengamalkan, dan kemudian mendakwahkanya. Atau minimal dapat menyegarkan kembali ingatan kita akan pentingnya kalimat At-Tauhid dalam diri kita.
Tujuan Diciptakannya Jin dan Manusia Adalah untuk Menauhidkan Allah
Sesungguhnya, Allah menciptakan seluruh alam semesta termasuk di dalamnya jin dan manusia adalah hanya untuk beribadah kepada-Nya. Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al-Qur’an Al-Karim, “Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku” (Adz-Dzariyat: 56). Inilah hakikat diciptakannya jin dan manusia, yaitu hanya untuk beribadah kepada Allah saja tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Sebab, tauhid hanya kepada Allah saja, karena syarat diterimanya suatu ibadah/ amalan adalah ikhlas kepada Allah merupakan hak Allah yang harus ditunaikan oleh setiap manusia. Setiap manusia harus mengikhlaskan ibadahnya kepada Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah. Jika seseorang beribadah kepada selain Allah, maka ia telah berbuat syirik kepada Allah dan hal itu mengeluarkannya dari Dienul Islam. Allah berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku hanya menyembah tuhanku dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya.” (Al-Jin: 20). Maka, perhatikanlah wahai kaum Muslimin!
Tauhid, Merupakan Inti Dakwah Para Rasul
Allah mengutus setiap rasul kepada setiap ummatnya untuk memulai dakwahnya kepada tauhid. Karena hal ini merupakan perintah Allah yang harus mereka sampaikan kepada ummatnya. Allah berfirman, “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang benar untuk disembah) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.” (Al-Anbiyaa’: 25). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika berdakwah di Makah selama tiga belas tahun beliau mengajak kaumnya untuk mengesakan Allah saja (tauhid), tidak kepada yang lain. Di antara wahyu yang diturunkan kepada beliau ketika itu adalah firman Allah dalam Surah Al-Jin ayat 20 yang telah disebutkan di atas. Selain itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendidik para Shahabat agar senantiasa memulai dakwahnya dengan tauhid. Ketika Rasul mengutus shahabat Mu’adz bin Jabal Radhiallahu ‘anhu berdakwah ke Yaman, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Hendaknya yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah bersaksi, ‘Sesungguhnya tidak ada Ilah/ sesembahan (yang benar untuk disembah) kecuali Allah’, Dalam riwayat lain disebutkan, ‘Agar mereka mengesakan Allah’.” (Muttafaq ‘alaih). Jadi, setiap rasul memulai dakwahnya dengan tauhid, memurnikan ibadahnya hanya kepada Allah saja, dan menjauhi syirik. Maka, wajib bagi siapapun untuk memulai dan memprioritaskan dakwahnya dengan tauhid, tanpa menafikan (meniadakan) dakwah kepada syari’at yang lainnya.
Sumber Keamanan Manusia dan Ketenteraman dengan Bertauhid
Para Ahli Tauhid hatinya selalu tenang dan aman, sebab mereka tidak pernah takut kecuali kepada Allah saja. Ahli Tauhid merasa aman ketika manusia ketakutan dan merasa tenang ketika mereka kalut. Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan imam mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82). Ayat ini memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang menauhidkan Allah. Mereka yang tidak mencampuradukkan antara keimanan dengan kesyirikan, sungguh mereka akan mendapatkan keamanan yang sempurna dari Allah. Keamanan ini bersumber dari dalam jiwa, bukan oleh penjagaan manusia atau pihak keamanan. Dan keamanan yang dimaksud adalah keamanan di dunia dan akhirat. Sebab, Ahli Tauhid mengetahui bahwa kezholiman yang terbesar adalah syirik kepada Allah sebagaimana penjelasan Rasulullah ketika para shahabat bertanya tentang maksud dari ayat di atas dalam hadits dari shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhuma. Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, “Ketika ayat ini turun (Al-An’am: 82), banyak umat Islam yang merasa sedih dan berat. Mereka berkata siapa di antara kita yang tidak berlaku zhalim kepada dirinya sendiri? Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjawab: “Yang dimaksud bukan (kezhaliman) itu, tetapi syirik. Belumkah kalian mendengar nesihat Luqman kepada puteranya, ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah (syirik) benar- benar suatu kezhaliman yang besar’.(Luqman: 13)”. (Muttafaq ‘alaih). Sungguh, para Shahabat Nabi sangat takut jika diri mereka berbuat zhalim (syirik) kepada Allah, maka pakah kita tidak merasa takut jika kita berbuat syirik kepada Allah?? Ayat ini merupakan kabar gembira bagi setiap orang yang selalu meninggikan Kalimatut Tauhid, yang tidak mencampuradukkan antara keimanan dan kesyirikan, sungguh mereka akan mendapat pertolongan dan keamanan dari siksa Allah di akhirat.
Sebagai Pembawa Kebahagiaan dan Pelebur Dosa
Seorang ahli tauhid yang memurnikan ibadahnya hanya kepada Allah saja dan menjauhi segala praktik kesyirikan, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan yang sejati bagi dirinya, dan menjadi penyebab bagi penghapusan segala dosanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang benar untuk disembah) kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya lepada Maryam serta ruh daripada-Nya, dan (bersaksi pula bahwa) surga hádala benar adanya dan Neraka pun benar adanya maka Allah pasti memasukkannya ke dalam surga, apapun amalan yang diperbuatnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, siapa saja yang murni aqidah dan tauhidnya, tanpa mengotorinya dengan kesyirikan, maka Allah menjanjikan Surga kepadanya. Walaupun, sebagian amalannya terdapat dosa dan maksiat. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman: “Hai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, sedangkan engkau tidak menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku sedikitpun, niscaya Aku berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula.” (H.R. Tirmidzi dan adh-Dhayya’, hadits hasan). Wahai kaum Muslimin, seandainya kita menemui Allah dengan membawa dosa dan maksiat sepenuh bumi, tetapi kita meninggal dalam keadaan bertauhid, insya Allah, segala dosa kita akan diampuni oleh Allah, dan pasti masuk surga dan tidak akan kekal di neraka.
Hak Allah yang Pertama dan Terakhir yang Harus Ditunaikan Hamba-Nya
Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Allah mengampuni dosa selain itu bagi orang-orang yang Dia kehendaki” (An Nisaa’: 116). Sehingga syirik menjadi larangan yang terbesar. Maka, tauhid merupakan perintah yang paling besar, sebab tauhid merupakan lawan dari tauhid. Oleh karena itu, setiap manusia wajib menauhidkan Allah. Allah menyebutkan kewajiban ini sebelum kewajiban lainnya yang harus ditunaikan oleh hamba. Allah Ta’ala berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah pada kedua orang tua” (An Nisaa’: 36). Kewajiban ini lebih wajib daripada semua kewajiban, bahkan lebih wajib daripada berbakti kepada orang tua. Allah berfirman, “Dan jika keduanya (orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…” (Luqman : 15). Sehingga seandainya orang tua memaksa anaknya untuk berbuat syirik maka tidak boleh ditaati dengan cara yang baik dan lemah lembut.
Sebagaimana telah dijelaskan di awal risalah ini, Rasul memerintahkan para utusan dakwahnya agar menyampaikan tauhid terlebih dahulu sebelum yang lainnya. Yaitu, Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal rodhiyallohu ta’ala ‘anhu, “Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan ialah agar mereka menauhidkan Allah.” (riwayat Bukhari dan Muslim). Selain itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda, “Barang siapa yang perkataan terakhirnya Laa ilaaha illallah niscaya masuk surga” (riwayat Abu Dawud, Ahmad dan Hakim dihasankan Al Albani dalam Irwa’ul Gholil). Dua hadits di atas menjadi dalil bahwa tauhid merupakan kewajiban yang paling pertama yang harus ditunaikan oleh setiap manusia pun menjadi kewajiban yang terakhir bagi setiap umat. Oleh karena itu, bersyukurlah bagi siapa saja yang senantiasa menauhidkan Allah, dan semoga kita semua mati dalam keadaan bertauhid kepada Allah, tanpa syirik sedikitpun.
Bagaimana cara menauhidkan Allah?
Setelah kita mengetahui bahwa tauhid memiliki keutamaan dan kedudukan yang tinggi di dalam Islam, maka wajib bagi kita untuk selalu menauhidkan Allah, memurnikan syahadatain Laa ilaaha illallah Muhammadar Rasuulullah, dengan cara mempelajari atau mengilmuinya, yaitu dengan mempelajari Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah (Hadits) Rasulullah sesuai dengan pemahaman para Shahabat Nabi. Mengapa harus pemahaman Shahabat Nabi, dan bukan yang lainya?? Karena Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, “Orang-orang yang terdahulu (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah ridha kepada mereka dan merekapun telah ridha kepada Allah. Allah telah menyiapkan bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” (At Taubah: 100). Para Shahabat Radhiallahu ‘anhum yang telah dijanjikan Surga oleh Allah, menjadikan aqidah sebagai ruh dalam menjalankan segala aktivitas mereka, termasuk ketika jihad melawan orang kafir. Kemenangan selelu diraih oleh pasukan Islam ketika berperang meninggikan kalimat Tauhid melawan orang kafir. Sebab, para Shahabat hanya menjadikan Allah saja sebagai penolong mereka. Maka, beruntunglah orang-orang yang mengikuti Muhajirin dan Anshar (para Shahabat) dalam segala hal termasuk masalah aqidah. Semoga Allah mengumpulkan kita di Jannah-Nya bersama para nabi dan rasul, dan ahli tauhid (umat Islam).
Sedangkan dalil untuk mengilmui/ mempelajari tauhid (Laa ilaaha illallah) sebagaimana firman Allah, “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada sesembahan (yang benar untuk disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu.” (Muhammad: 19). Juga firman-Nya, “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang yang berilmu.” (Al-‘Ankabut: 43). Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa mati dalam keadaan berilmu tentang Laa ilaaha Illallah, maka dia pasti masuk Surga.” (H.R. Ahmad, Shahih). Maka, kita wajib mengilmui makna yang diinginkan dari kalimat tersebut, baik yang dinafikan (ditolak) maupun yang ditetapkan, dan kemudian berusaha mengamalkannya.
Namun, sangat disayangkan betapa banyak ummat Islam di zaman ini yang meremehkan dan lalai, bahkan bodoh dalam masalah aqidah!! Ini merupakan suatu musibah besar bagi Ummat Islam!! Sehingga, pantaslah kekalahan selalu diderita oleh umat Islam pada saat ini. Semoga hal ini menjadi pelajaran bagi mereka yang mau berpikir. Wallaahu A’lam bish-Shawab.
[Disadur dari Buletin Al-Atsary, diterbitkan oleh Forum Studi Islam Al-Atsary Jatinangor, Edisi 1/ tahun I/ 8 Jumadil Ula 1428 H/ 25 Mei 2007 M]
Lanjut Baca Yuk.!!
Langganan:
Postingan (Atom)